JANGAN BOHONGI DIRI SENDIRI
Rabu
"Jangan bohongi diri sendiri...", ucap Churchill di tahun 1932 atas ketidakpercayaannya pada Nazi. Tahun 1938 saat Nazi mengambil Austria, Churchill kembali berseru menentang Nazi, namun mulai Perdana Mentri Neville Chamberlain hinga Pemimpin Inggris lainnya tetap saja tak menentang Nazi. Churchill tetap sendirian. Tahun 1940, Winston Churchill diangkat menjadi Perdana Mentri, di saat Nazi semakin gencar menguasai Eropa. Churchill tetap menentang Nazi, dan Inggris mulai di bom. Lebih dari setahun, Inggris berjalan sendirian. Herannya, Churchill yang membenci komunisme justru bersekutu dengan Stalin dan bangsa Soviet, bahkan menjalin hubungan dengan Roosevelt yang saat itu enggan berperang.
Segalanya memang kepentingan, namun kepentingan tak berarti diatas segalanya, bukan? Jepang membom Pearl Harbor, dan Churcill berkata, "ternyata kita menang juga". Tanpa Churchill dan Inggris, semua Eropa akan jatuh. Kemudian, kaitkanlah dengan bangkitnya Pemimpin dari Negara-Negara Demokrasi, yang di tahun 1941 tinggal lusinan jumlahnya, bahkan hingga ke 17 Agustus 1945.
Perang dunia, Nazi, dan Hitler telah berlalu, namun siapapun bisa menyulut perang, menghidupkan Nazi, atau menjelma menjadi hantunya Hitler. Jangan bohongi diri sendiri, agar tak perlu anti Yahudi padahal Yahudi. Atau anti barat, padahal kacungnya Timur, atau sebaliknya. Atau mengaku rugi, padahal agar untung lebih banyak. Atau Aparat padahal keparat. Atau peduli orang miskin, padahal demi menimbun harta atau demi tahta. Atau mengasihi jiwa-jiwa hingga ke pelosok dunia, padahal manusia disekitarnya dicekik. Atau bicara surga, padahal menghadirkan neraka di hari ini, atau lain sebagainya yang membohongi diri sendiri.
Amatilah sejarah dan soal adanya kekuatan misterius yang berpihak pada manusia yang tak membohongi dirinya sendiri. Bukankah sejarah bagian dari penyataan diri-NYA, dimana Dia menyatakan diri-NYA bukanlah "bapak dari segala pembohong"?
Jika Anda bertanya soal apa dibalik uraian ini, maka lihatlah diri yang adalah pembohong, bahkan menjadi pembohong terhebat jika tak mengakui dirinya pernah atau sedang berbohong. Jangan bohongi diri sendiri dengan dimulai berkontemplasi, lalu berbalik melawan diri jika berbohong, hingga kemudian melawan siapapun yang masih gemar membohongi, sampai rubuh berkeping-keping.... MERDEKA!
Segalanya memang kepentingan, namun kepentingan tak berarti diatas segalanya, bukan? Jepang membom Pearl Harbor, dan Churcill berkata, "ternyata kita menang juga". Tanpa Churchill dan Inggris, semua Eropa akan jatuh. Kemudian, kaitkanlah dengan bangkitnya Pemimpin dari Negara-Negara Demokrasi, yang di tahun 1941 tinggal lusinan jumlahnya, bahkan hingga ke 17 Agustus 1945.
Perang dunia, Nazi, dan Hitler telah berlalu, namun siapapun bisa menyulut perang, menghidupkan Nazi, atau menjelma menjadi hantunya Hitler. Jangan bohongi diri sendiri, agar tak perlu anti Yahudi padahal Yahudi. Atau anti barat, padahal kacungnya Timur, atau sebaliknya. Atau mengaku rugi, padahal agar untung lebih banyak. Atau Aparat padahal keparat. Atau peduli orang miskin, padahal demi menimbun harta atau demi tahta. Atau mengasihi jiwa-jiwa hingga ke pelosok dunia, padahal manusia disekitarnya dicekik. Atau bicara surga, padahal menghadirkan neraka di hari ini, atau lain sebagainya yang membohongi diri sendiri.
Amatilah sejarah dan soal adanya kekuatan misterius yang berpihak pada manusia yang tak membohongi dirinya sendiri. Bukankah sejarah bagian dari penyataan diri-NYA, dimana Dia menyatakan diri-NYA bukanlah "bapak dari segala pembohong"?
Jika Anda bertanya soal apa dibalik uraian ini, maka lihatlah diri yang adalah pembohong, bahkan menjadi pembohong terhebat jika tak mengakui dirinya pernah atau sedang berbohong. Jangan bohongi diri sendiri dengan dimulai berkontemplasi, lalu berbalik melawan diri jika berbohong, hingga kemudian melawan siapapun yang masih gemar membohongi, sampai rubuh berkeping-keping.... MERDEKA!

